resensi buku

JudulFilosofi Teras
PengarangHenry Manampiring
PenerbitKompas Gramedia
Tahun Terbit2019
Halaman320 Halaman
ISBN978-602-412-518-9

Saya mengenal Henry Manampiring saat dia sering membuat survei-survei nasional di Twitter. Om Piring begitu sebutannya di Twitter, sering mengunggah pertanyaan-pertanyaan survei yang menggelitik dan sensasional bagi followers-nya.

Lewat akun @newsplatter kala itu, dia mencari data berapa banyak kaum jomblo yang mengikuti survei, berapa rentang usianya, apa alasan mereka menjomblo dan lain–lain. Survei tersebut bernama “Survey Jomblo Nasional” dan dilakukan pada tahun 2012.

Saya terhibur dengan survei Om Piring yang mengusik anak muda galau penghuni jagat Twitter untuk diteliti menggunakan penelitian sosial. Saya betah membaca cuitannya karena secara tidak langsung dia mengajarkan follower-nya cara memahami data, mengolah data, dan menganalisa data. Apalagi masalah yang diangkat begitu dekat dengan saya dan sangat relevan pada waktu itu. Berkat beberapa survei nasionalnya, dia berhasil membuat buku berjudul “The Alpha Girl’s Guide”.

Awal tahun 2019, Henry Manampiring menulis buku berjudul “Filosofi Teras”.  Buku ini bergenre filsafat. Perihal filsafat biasanya sepi peminat dan diangggap berat oleh banyak pembaca. Namun buku Om Piring benar-benar berbeda. “Filosofi Teras “  yang diterbitkan Gramedia laris manis dan mendapatkan penghargaan “Book of The Year “ tahun 2019 oleh IKAPI.

Membaca tulisan Om Piring mengenai Filsafat kaum Stoa membuat pembaca senang. Gagasannya disampaikan dengan runtut sehingga memudahkan pembaca untuk memahaminya.

Om Piring membuka tulisan dengan memberitahu pembaca awal mula dia tertarik mempelajari filasafat. Pada waktu itu dia mengalami depresi yang akut. Semua persoalan dia respon dalam bentuk kemarahan. Kemarahan itu terus muncul dari waktu ke waktu hingga menurutnya sudah mengganggu hidupnya dan orang-orang disekitarnya. Namun setelah mempelajari dan mempraktekkan filosofi tersebut, karakternya berubah. Dia tidak gampang marah dan merasa lebih tentram menjalani hidupnya. Bahkan hubungan sosialnya pun lebih stabil.

Menurut saya, pengantar Om Piring ini begitu meyakinkan karena nilai-nilai filsafat  yang ditulisnya adalah nilai filsafat yang sudah dipelajari dan sudah dipraktekannya selama bertahun-tahun. Jadi buku ini tidak kaleng-kaleng.

Saat saya membaca buku ini, seolah-olah saya sedang membaca sebuah jurnal penelitian yang ramah otak. Om Piring berhasil mengungkapkan perjalanan surveinya secara gamblang dan mendalam dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Lebih lanjut Om Piring mengungkapkan pandangan filosofis kaum Stoa yang masih sangat relevan dengan masa kini. Kecemasan hidup yang terjadi berabad-abad yang lalu menjadi muara bagi terbentuknya nilai-nilai Stoic. Kecemasan ini nyatanya tidak hilang sama sekali, bahkan semakin menjadi-jadi seiring dengan berkembangnya budaya dan teknologi.

Salah satu prinsip filosofi yang menarik perhatian saya adalah kita tidak perlu menolak emosi-emosi yang kita rasakan, termasuk emosi negatif sekalipun. Kita perlu mengenali emosi-emosi yang muncul saat kita cemas, untuk selanjutnya menyadari dan memahami apa pemicunya. Dengan demikian kita dapat mengupayakan respon positif yang dapat kita tunjukkan hingga akhirnya dapat menolong kita untuk lebih berakal sehat dan mengalami ketenangan dan kebebasan jiwa.

Saya beruntung telah membaca dan memahami filosofi teras. Buku ini telah membantu menguatkan mental saya saat menghadapi masa pandemi yang telah menguncang jiwa raga.

Salah satu sikap mental yang saya pelajari dari buku ini adalah sanggup menerima hal –hal yang tidak bisa saya kontrol.

Tentunya saya tidak dapat mengontrol ketidakpastian hidup  yang melanda diri saya di masa pandemi ini, tetapi paling tidak, saya bisa mengontrol cara saya memberi respon terhadap pandemi ini. Apakah saya cemas berlebihan? Apakah saya ikhlas menerimanya? Apakah saya sudah bisa bersyukur? Apakah saya sudah berdamai dengan situasi ini? ***