TETAP eksis

oleh winedar kuncaranintyas

Saya sempat merasa diatas angin sewaktu FIS memutuskan akan menggunakan ELP (E-Learning Program). Dalam bayangan saya, saya tidak akan mengalami kesulitan. Sebagai seorang modern, saya merasa sangat paham dan mahir .perihal app dan media sosial. Pada saat itu kepala sekolah mengumumkan FIS akan menggunakan E-Mail orang tua murid untuk mengirimkan materi pembelajaran, lalu siswa diminta mengerjakannya secara manual. Kepala sekolah juga berpesan supaya materi yang diberikan harus familiar dengan siswa, mudah dipahami, dan melibatkan orang tua murid untuk membantu siswa apabila siswa mengalami kesulitan.

MATERI YANG DITERIMA SISWA HARUS DISETUJUI OLEH SEKOLAH.

Perkiraan saya, pasti akan ada revisi-revisi dari bagian kurikulum terhadap materi pembelajaran yang saya rancang. Meski rumit, saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk murid-murid saya. Saya tidak mau gegabah memberikan banyak materi, namun memikirkan dengan cermat setiap detailnya supaya murid bisa mendapatkan ilmu pengetahuan baru tanpa ada guru disisi mereka.

Dan mulailah apa yang disebut Work From Home, Teach From Home, E-Learning Program; sebuah aktivitas yang tidak pernah terbersit di angan-angan saya sebelumnya. Sebagai guru yang konservatif, saya jelas lebih senang bertemu langsung dengan murid-murid, berdiskusi, berinteraksi, bukan belajar satu arah model ini.

Hari-hari saya pun diwarnai kebiasaan baru, yaitu bangun pagi – mandi – merespon feedback dan merevisi notebook – dan berakhir dengan refleksi. Saya memerlukan refleksi setiap akhir hari untuk perbaikan materi pembelajaran esoknya. Saya selalu bertanya tiga hal penting.

  • Apakah materi saya benar-benar diperlukan siswa?
  • Apa lembar kerja saya benar-benar dapat mewakili kehadiran saya sebagai guru?
  • Apakah siswa mengerti inti dari pembelajaran saya?

Saya dan rekan guru P6 melakukan simulasi GC supaya familiar mengelola kelas GC. Saya pikir GC sangat mudah; seolah-olah seperti bermain dengan aplikasi sosial media, namun faktanya tidak sesuai dengan bayangan saya. Kami sempat menertawakan diri sendiri karena sempat meremehkan.

Supaya GC pertama berjalan lancar, kami membuat akun dan secara bergantian berperan sebagai guru. Awalnya lancar, tapi kemudian kami menemukan berbagai macam kesulitan seperti; cara membuat soal, cara merekap nilai, cara agar siswa bisa menjawab pertanyaan dengan mudah, dan seterusnya. Saya harus berhasil membuat GC yang kompleks menjadi GC yang mudah dipahami oleh murid. Hal ini tentu tidak mudah, Karena membuat hal yang rumit menjadi mudah dipahami memerlukan pemikiran yang tidak instan. Harus cermat dalam membuat sistem pikirnya.

Sesaat saya teringat petuah dari LC saat saya mengikuti kelas TTC, “hal yang outputnya simpel sebenarnya terbangun dari sistem yang kompleks dan rumit.”

Lagi-lagi saya mentertawai diri sendiri. Hp saya mungkin smart phone, tapi ternyata saya belum cukup update dan smart untuk mengoptimalkan pengoprasiannya.

But, iteration is the key!

Kami terus belajar. Sekolah memberikan waktu sekitar 2 minggu untuk mempelajari Google Classroom. Saya dan teman-teman P6 mencatat keberhasilan dan kekurangan kami dalam mengelola GC. Supaya anak-anak nantinya mudah bergabung dengan GC, kami membuat video tutorial cara mengoprasikan GC dari sudut pandang siswa. Kami yakin pasti akan sangat bermanfaat karena tidak semua murid dan orang tua murid familiar dengan GC. Dengan video tutorial, anak dan orang tua murid bisa belajar atau setidaknya mengenal bersama. Sejauh ini, GC makin populer dan digemari anak-anak P6. Kami sangat menikmati kelas virtual ini. Kami memulainya dengan video tutorial, dan tidak tahu kapan akan mengakhirinya. Karena kalender akademis dari pemerintah belum memberitahu kapan konsep belajar dari rumah ini berakhir. Yang pasti saya dan murid-murid harus eksis ditengah pandemik ini.

selama E-Learning berlangsung, beberapa orang tua murid meminta saya supaya memberitahu putra-putrinya tidak malas-malasan mengikuti kegiatan sekolah.

Beberapa orang tua aktif menceritakan perilaku buah hatinya di rumah. Ada juga yang menanyakan materi yang belum dipahami putra-putrinya. Alih-alih terganggu, saya justru senang. Saya merasa dilibatkan dalam tanggung jawab pendidikan siswa meski terpisah jarak karena social distancing.

Sejak Google Classroom berlangsung, saya melihat murid-murid saya sangat bersemangat. Mereka mengumpulkan tugas tepat waktu dan antusias dalam mengerjakan. Tak jarang notifikasi dari Google Classroom terdengar saat malam sudah larut. Saya sangat tersentuh dengan semangat murid-murid dan sangat berterimakasih atas dukungan orang tua mereka. Beberapa kali saya mengadakan tele confference dengan murid-murid saya, dalihnya untuk menjelaskan materi lebih mendalam, padahal sebetulnya saya ingin melepas rindu kepada mereka. Melihat senyum dan mendengar suara mereka membuat perasaan saya bercampur aduk. Saya sangat bahagia saat bisa berinteraksi dengan mereka. Bagaimana tidak, 8 jam perhari dari Senin hingga Jumat saya bersama murid-murid saya. Tidak hadirnya senyuman, sentuhan, celotehan spontan murid-murid, menyebabkan separuh jiwa saya hilang. Rupanya sebagain besar energi saya berpusat di murid-murid. Ketidakhadiran mereka mempengaruhi kehidupan profesional saya.

Bagi saya guru bukan sekedar mengajar, Namun guru harus memiliki memiliki naluri untuk mengusahakan, mendidik, dan mengempati.

Saya ingin mengatakan dengan jujur dua hal. Pertama, WFH itu lebih melelahkan dibanding bekerja regular. E-Learning, Google Classroom, Notebook, amatlah keren, namun saya lebih memilih mengajar langsung dan bertemu dengan murid-murid saya. Tidak ada yang bisa menggantikan dengan senyum setiap pagi dan bau wangi khas murid-murid saya di kelas 6. Kedua, saya tidak pernah melakukan Workd From Home, namun Work From Heart. Saya melakukannya setiap hari untuk murid-murid saya.***